Blog EntryPesan Sang Kiai (3)Feb 1, '08 9:33 PM
for everyone

Data kami di lapangan menunjukkan terjadi banyak kecurangan. Bagi-bagi uang ratusan ribu, sembako, pakaian, dan sebagainya.” Suara di seberang terasa datar di telinga Rihan. Hasan, Ketua KPUD meneleponnya malam-malam.

Belum sempat Rihan menjawab, suara lirih di ujung sana terdengar lagi.

“Secepat mungkin akan kami tindak lanjuti. Akan ada sanksi tegas bagi mereka yang melakukan politik uang.”

“Apa boleh saya tahu siapa mereka?”

“Kubu G.” Hasan memberitahu inisial nama.

Rihan mendesah panjang. Hening sesaat.

“Karena itu Pak Kiai, saya sekaligus konfirmasi lagi, tabligh akbar tetap dilaksanakan seperti rencana semula.”

“Ya, ahad ini, kan?”

“Tolong Pak Kiai mengangkat pula masalah ini.”

“Tentu, Insya Allah.”

Rihan menutup gagang telepon dengan sejuta kegelisahan. Matanya memejam sesaat. Hatinya tengadah ke langit. Semoga acara tabligh akbar kerjasama dengan KPUD ahad besok, lancar dan sukses. Amin.

***

Ahad pagi. Lautan manusia menyemuti alun-alun kabupaten. Di beberapa tempat dipasang umbul-umbul warna-warni. Spanduk panjang membentang di atas panggung,” Tabligh Akbar Ayo Sukseskan Pilkada.”

Di tengah ribuan manusia, Rihan berdiri tegak di atas panggung. Suaranya membahana. Menggema ke seantero kota.

“Allah mengingatkan kita, celakalah orang-orang yang curang. Termasuk perbuatan curang adalah melakukan politik uang. Bagi-bagi uang atau barang kebutuhan lainnya agar orang lain mengikuti apa yang kita inginkan.”

Massa seakan tersihir. Semua mata memusat pada sosok sang Kiai. Beberapa kepala di barisan terdepan manggut-manggut.

“Tidakkah orang-orang itu meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”

Semangatnya berkobar. Kutipan peringatan Allah dalam Alquran itu dibacanya dengan suara penuh getar. Seolah mencuatkan ketakutan mendalam.

“Pada Pilkada pekan depan, pilihlah dengan akal sehat, pikiran jernih, dan hati yang bersih. Jangan abaikan logika dan bisikan nuranimu. Karena hati yang sehat tak mungkin bohong.”

Demikian akhir pesan singkat sang Kiai. Tabligh akbar disudahi dengan geremangan ribuan massa. Mereka berbondong-bondong membubarkan diri.

Sementara itu, di bawah pohon beringin, dua puluh langkah dari panggung, sepasang mata tajam menatap. Mata itu menyipit. Kening dahinya  mengerut. Mukanya merona merah. Dibuangnya rokok dari bibir hitamnya dan diinjak-injaknya dengan kuat.

Ditekannya beberapa nomor dalam telepon genggamnya.

“Malam ini, plan A.” Ucapnya lirih, setengah berbisik.

Sesungging senyum menghiasi bibir tebalnya.

[ery, dahlia, 2007]

Bersambung                                                                            


Add a Comment